Aku Anak Indonesia?

Pada zaman yang semakin modern ini, banyak perubahan demi perubahan yang  terjadi pada tubuh bangsa Indonesia kita ini. Yang paling jelas terjadi dan kita rasakan sehari-hari adalah perubahan anak-anak Indonesia. Kenapa demikian? Karena saya pribadi merasakan hal tersebut, contohnya  ketika zaman saya kecil  dulu, saya lebih banyak waktu untuk bermain dengan teman di dunia nyata dan lain-lain perubahan yang saya lihat. Dan kali ini saya akan membahasnya dan mencurahkan ke’gundahan’ saya dalam postingan ini, selamat membaca 🙂

.

Suatu hari ketika saya pulang dari warnet dan sedang menunggu angkutan umum untuk pulang, kalian tau apa yang saya lihat di seberang jalan?….

Saya melihat pemandangan yang sangat saya benci.

20150404_142640 (1)

Nah, itu fotonya yang saya ambil diam-diam. Kalau kalian perhatikan, foto ini bukan hanya sekedar foto yang berisi tiga anak kecil yang sedang ingin menyebrang, melainkan…. coba kalian zoom dan lihat apa yang anak berbaju coklat pegang?

Itu adalah rokok. Dan saya jelas melihat si anak sedang merokok.

Benar-benar miris dan sakit hati saya (serius). Jujur saya, melihat orang dewasa merokok saja saya kesal, apalagi kalau anak kecil. Dan ini adalah salah contoh perubahan yang saya maksud, perubahan pada anak-anak Indonesia.

Contoh lain yang membuat saya miris adalah sontek / menyontek.

Tanpa mau pamer, jujur saja saya sudah meninggalkan kebiasaan menyontek dari kelas 2 SMP. Dari situlah saya mulai mandiri dan benar-benar tidak menyontek, karena menurut saya kebiasaan menyontek walaupun terdengar sangat biasa namun hal ini bisa menjadi cikal bakal KKN. Dan saya berpikir, kenapa tidak berusaha jujur saja, ini kan hanya nilai di atas kertas. Ok! Memang benar, walaupun hanya nilai di atas kertas, tapi sangat memengaruhi peringkat, atau pandangan orang pada kita. Kalau kita ranking 1 kan pasti orang berpikir kita pintar, beda dengan pandangan orang terhadap orang yang ranking 30 misalnya. Tapi meskipun begitu, saya merasa tidak peduli apa yang akan orang katakan pada saya, walaupun sontekan di depan mata sekalipun, saya tidak akan memakainya dan akan lebih menghargai usaha kerja otak saya sendiri.

Contoh nyata dari kejadian menyontek ini saya lihat sendiri. Ketia try out Ujian Nasional kelas 3 SMA. Teman-teman saya lumayan banyak yang memakai sontekan, bahkan teman-teman SMP saya yang saya tau. Jujur saja, saya bukan orang yang pintar, nilai try out matematika saya hampir selalu di angka 4, 5 atau yang paling tinggi 6. Begitu juga nilai ekonomi saya. Tapi kenapa saya tidak memakai sontekan? Apalagi SMA, hampir semua siswa mengincar perguruan tinggi negeri. Jawabannya satu, saya ingin kejujuran teraplikasikan dengan nyata dalam kehidupan, tidak hanya sekedar omong kosong, disosialisasikan, tapi tidak diterapkan di dunia nyata, walaupun hanya hal kecil, tapi pernahkan kalian berpikir tentang hal ini? Berpikir ada banyak siswa di luar sana, bukan hanya di sekolahmu, tapi juga se-Indonesia yang juga mengharapkan perguruan tinggi negeri. Mereka yang mungkin usahanya dua kali lipat dibanding kamu? Mereka yang belajar susah-susah, mereka yang mengeluarkan uang lebih lagi untuk membayar bimbel, mereka yang sampai larut malam belajar demi impiannya. Tapi apa? Impian mereka harus kandas karena orang-orang yang suka menyontek. Sekarang begini, apa kamu kamu posisi yang seharusnya bisa kamu tempati, sesuatu yang seharusnya bisa kamu dapat, tapi gagal hanya karena si para pencontek ini? Apa kamu mau hak kamu diambil orang? Apalagi kalau menyonteknya ini bisa memengaruhi nasib orang banyak, contohnya seleksi ptn dsb.  Jadi, tidak seharusnya kalian berbuat hal-hal yang kamu sendiri tidak mau merasakannya, apalagi orang lain 🙂

Saya jadi ingat ketika saya SMP. Guru IPS saya pernah cerita tentang keadaan zaman penjajahan. Zaman dimana tidak ada hak dan penuh kewajiban. Zaman dimana tuan rumah bukanlah yang jadi penguasa. Guru saya, Pak Fakhrurrozi bercerita, kalau pada zaman dahulu anak-anak Indonesia sudah mati-matian memperjuangkan kemerdekaan, mereka sudah bisa memegang senjata. Mereka bahkan merelakan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia. Lalu sekarang, apakah kita anak-anak Indonesia mampu melakukan hal tersebut? Jangankan kemampuan, kemauan saja mungkin tidak.

Lalu apakah saya, kamu, dan kalian semua adalah anak Indonesia? Anak Indonesia yang rela melakukan apa saja demi tanah air yang selama ini telah memberikan banyak kenikmatan dibanding para orang asing yang bahkan mereka harus mencurinya dari Indonesia..  Apakah kita anak Indonesia yang seperti itu?

.

Postingan saya kali ini bukan hanya sekedar curahan hati saya saja, dan mungkin ada juga yang merasakan hal yang sama dengan saya? Yup, inilah kenyataan, kita lihat dan rasakan. Perubahan yang jelas dan nyata. Mungkin ada orang yang beranggapan kalau perubahan yang sudah terjadi ini memang murni karena modernisasi, tidak dapat dihindari dan akan membiarkannya terus terjadi. Tapi saya pribadi beranggapan kalau perubahan-perubahan pada anak Indonesia seharusnya jangan hanya didiamkan. Pendidikan Pancasila harus diajarkan pada mereka dan rasa nasionalisme harus dipupuk sedari kecil, agar kelak bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s