Iwak Peyek Nasi Jagung Chapter 4

capture-20141228-2113

FF: Chaptered
Title: Iwak Peyek Nasi Jagung
Cast: Sabila, Minho, Kai, Zimei (Nadirah), Wendy (Itsna), Dahlia Polan aka Dapol (Nadhira), others
Genre: Angst
Author: Nadirah Ali (@alinadirah)

Note: DILARANG COPAS!! AWAS LO DIKUTUK  JADI IKAN PARI *siapa juga yg mau copas

****

“Buku besar? Iya dok.. ii.. itu.. mungkin buku yang dia cari! Ada di kampus mungkin….” Kata Wendy.

“Sekarang pasien dalam penjagaan suster. Sebaiknya dia di pindahkan di rumah sakit jiwa. Jangan disini. Kalau boleh tau kalian ini siapa-siapanya pasien?”

“Emm.. kami? Eh.. aku dan Minho hyung mahasiswa Nanyang Technology University”

“Lalu siapa yang sekampus dengan pasien?”

“Tidak ada dok. Kami semua dari Nanyang”

“Dia? Dia berkuliah dimana?”

Aku mencolek Minho hyung, berusaha menanyakannya, “Ssst.. ssst Minho hyung! Dia dari mana?” bisikku

“Aku juga tidak tau, yang aku tau dia hanya sering membawa buku besarnya itu di kampus kita, tapi aku tidak pernah tau dia berkuliah di Nanyang atau tidak” jawab Minho hyung

“Ah.. kalau begitu, aku harus menjawab apa?”

“Sudah bilang saja dia tidak berkuliah”

“Baiklah..”

.

WENDY POV

Gangguan mental? Yaampun, kasihan sekali Sabilah. Setelah mendengar penuturan dokter bahwa Sabilah mengidap Skizofrenia. Di tambah dengan penyakit tuberculosis yang dia idap. Sungguh malang.

Sekarang kami tidak tau bagaimana cara menghubungi orangtua Sabilah. Kami tidak tau banyak tentang Sabilah. Yang kutau dia hanya seseorang yang entah siapa tetapi sering berada di area kampus kami. Kami tidak pernah menyangka jika dia adalah salah satu mahasiswi kampus kami.

Dia sering membawa buku besar, apakah dia adalah mahasiswi jurusan akuntansi?….

Ah, tapi.. mana mungkin. Aku dan Zimei yang mahasiswi jurusan akuntansi tidak pernah tau kalau dia adalah mahasiswi Nanyang.

“Baiklah, aku akan ke ruang kerjaku. Jika ada apa-apa panggil saja aku.” Kata dokter.

Aku merenung sejenak. Memikirkan tentang identitas seorang Sabilah. Soal buku besarnya itu. Aku pun tak tau isinya apa.

Akhirnya aku memutuskan pergi ke parkiran untuk megecek buku besarnya yang berada di mobil.

“Wendy! Kau mau kemana?” Tanya Zimei

Aku menoleh dan menjawabnya, “Sebentar. Ada yang ingin ku ambil di mobil.”

“Baiklah..”

.

MINHO POV

Sabilah mengidap skizofrenia? Yaampun, malang sekali nasib gadis ini.

Sabilah Izzati Amma Yasifun. Ya itu lah nama panjangnya. Aku mengetahuinya ketika tak sengaja melihat kartu identitas Koreanya. Yang ku tau, dia adalah seseorang yang entah siapa, tetapi sering berkeliaran di area kampus kami sambil membawa buku besar. Dan kami tak senagaja jadi saling kenal karena kita sering bertemu di toko “Metta Surya” milik nci Marina. Yang tak bisa ku lupakan sampai detik ini adalah utang-utangnya.  Entah sudah berapa banyak, yang pasti sangat banyak. Hubungan kami jadi semakin dekat, lantaran dia memintaku mencari tau tentang Kai, juniorku di Nanyang jurusan teknik mesin. Tapi Sabilah pernah bilang padaku, kalau Kai memperkenalkan dirinya dan dia bilang kalau Kai berkuliah di jurusan kedokteran. Sebenarnya.. sejak saat itu aku sudah curiga ada yang aneh dengan anak ini. Pasalnya di Nanyang sendiri tak ada jurusan kedokteran.

.

ZIMEI POV

Aku merinding ketakutan. Tidak pernah aku merasakan ini sebelumnya.

Huuuuufftt… Aku menghela nafasku panjang.

Kini kami semua, aku, Kai dan Minho hyung diam seperti batu. Tak ada komunikasi di antara kami. Sedikit-sedikit.. pikiranku kosong. Sedikit-sedikit lagi memikirkan Sabilah. Dan lagi.. aku merasakan sesuatu yang aneh.. tapi apa? Apa yang ku rasakan? Begitu aneh dan mengganjal di hati. Aku merasa sesuatu akan terjadi tapi.. apa?..

.

WENDY POV

“Hai kalian semua!..” kataku sambil menyodorkan satu buah buku besar akuntansi milik Sabilah.

“Buku besar Sabilah? Untuk apa?” Tanya Zimei

“Oh ayolah! Mungkin saja ada sedikit info yang bisa kita dapatkan dari sini”

“Oh ya benar juga” kata Minho oppa

“Baiklah kalau begitu. Ayo kita buka!!”

Dan ketika Zimei membuka buku besar akuntansi milik Sabilah itu..

DEG DEG DEG DEG DEG DEG..

Zimei secara perlahan membuka buku besar tersebut.

Dan….

Sungguh. Mataku nyaris tak berkedip melihatnya..

Alangkah terkejutnya kami dengan isi buku besar tersebut..

Buku besar tersebut berisikan….

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

…….

Buku besar tersebut berisikan DAFTAR UTANG SABILAH KEPADA SEMUA ORANG!!!!

Arrghhh…. Sungguh! Antara rasa tidak puas, marah dan…. Ah! Menyebalkan sekali orang ini!

Kami benar benar tidak tau lagi harus mencari tau identitas dirinya dari mana lagi. Kami.. merasa.. KECEWAAA.. Aisshhhh

.

AUTHOR POV

Sementara itu, di kamar pasien, Sabilah. Dia sedari tadi hanya berbicara sendiri dengan ‘boneka chucky’-nya. Dia benar benar terlihat seperti orang tidak waras. Tidak ada yang dia pegang, tapi dia tetap  bercengkrama dengan ‘boneka’nya itu.

“Nona. Ayo di makan makanannya” kata suster, tapi yang ada Sabilah hanya menggerutu saja dan tetap ingin di sediakan iwak peyek nasi jagung.

“Tidak! Aku bilang aku tidak mau..”

Namun, beberapa saat kemudian dia mengingat sesuatu.

Rumah sakit? Hikss.. Taeminah.. Apakah dia sudah menjadi dokter sekarang?. Dokter. Ini adalah cita-citanya Hikss..

Tiba-tiba saja dia diam dengan posisi kepala yang di miringkan.

“Ommo!! Buku besar akuntansiku!! Sepertinya ada di kampus!!! Ommo ommo aku harus ke kampus!!” kata Sabilah yang langsung bangun dari duduknya dan berlari dengan cepat.

Akhirnya Sabilah berhasil keluar dari rumah sakit dan naik taksi menuju Nanyang. Sementara suster penjaga Sabilah kebingungan dan langsung menghampiri teman-teman Sabilah yang kebetulan berada di depan ruang kerja sang dokter, “Gawat! Gawat pasien kabur!”

“APA!!” kata teman-teman Sabilah serentak.

“Iya benar! Kini dia menuju kampus. Tadi dia bilang begitu”

Wendy, Zimei, Minho dan Kai langsung dengan cepat menyusul Sabilah.

**

Di kampus

“Dimanaaa… dimana bukukuuu.. aaaahh…

Kini, Sabilah berada di depan pintu kelas akuntansi. Dia mencoba menggedor-gedor pintu tersebut, menariknya, mendorong dengan badannya sekuat tenaga. Tapi dia tak mampu. Dia terus mencoba membuka pintu tersebut.

Wendy, Zimei, Minho dan Kai pun sampai. Atas saran dari Wendy, akhirnya mereka menuju kelas akuntansi, yang di yakini Wendy bahwa Sabilah ada disana.

“Ishh.. kenapa susah sekali!! Tolong! Siapapun tolong..” kata Sabilah dengan wajah panik.

Keempat teman Sabilah ini mendengar suara Sabilah, “Benar apa yang ku katakan! Pasti dia ada disana! Ayo cepat!” kata Wendy.

Akhirnya keempat teman Sablah ini menuju lantai empat, kelas akuntansi Wendy dan Zimei.

Sementara itu, Sabilah masih mencoba membuka pintu kelas tersebut.

ketika mereka berempat sampai…. “Sabilah!! Stop!” terak Minho.

“Sabilah. Maafkan aku dan Wendy, ee.. ika kami salah denganmu, tapi aku mohon kemarilah.”

Namun, Sabila tidak menghiraukannya dan terus mencoba membuka pintu kelas tersebut.

Kai yang melihat Sabilah hilang kendali nampaknya tak tega melihat penderitaan Sabilah. Akhirnya dia memutuskan untuk berpura-pura menjadi Taemin. Dia mengerutkan kedua alisnya, “Sabilah!..” kata Kai dan Sabilah seketika terdiam.

Kai menghela nafasnya. Lalu dia berkata, “Sabilah. Aku lah Taemin yang selama ini kau cari. Kemarilah” kata Kai lalu dia tersenyum walau terlihat di paksakan.

Sabilah berjalan sedikit ke arah mereka yang jaraknya sekitar lima meter.

“Apa? Kau mau mecoba mengaku-ngaku Taemin? Tidak Kai! Kini aku sadar kau bukan Taemin. Lagi pula, Taemin bukan orang yang sombong sepertimu!”

“Ee.. tidak Sabilah, coba dengarkan aku dulu.. jadi..”

Minho yang tidak sabar pun akhirnya menghampiri Sabilah untuk kembali ke rumah sakit. Lalu Kai ikut bersama Minho.

Sabilah merasa dirinya di kepung, akhirnya berlari lurus ke arah dimana Zimei dan Wendy berdiri. Ketika Sabilah mendekat, Zimei dan Wendy pun mencoba memegang tangan Sabilah, tapi tenaga Sabilah terlalu kuat. Dan Sabilah pun terlepas dari pegangan Zimei dan Wendy. Dengan sigap  Minho berlari ke arah Sabilah. Sabilah melihat ke belakang, ternayata Minho mengejarnya dan dia pun berusaha berlari lebih kencang.

“Toloooong.. tolong…” teriak Sabilah

Sabilah yang merasa terancam terus berlari dan berlari tanpa dia sadari akhirnya dia menabrak tembok di depannya. Sabilah yang mulai tak sadarkan diri berlari tanpa arah dan akhirnya terjatuh dari balkon lantai empat.

“SABILAAAAAH….”

Keempat temannya terkejut ketika mereka mendapati Sabilah yang sudah bermandikan darah direrumputan.

Dengan cepat keempatnya turun ke lantai bawah.

“Sabilah..” kata Zimei, sementara Wendy mencoba menghubungi ambulance.

Kai terlihat menundukkan kepalanya. Betapa menyesalnya dia telah mengacuhkan Sabilah.

“Baiklah teman-teman. Kita katakan saja yang sebenarnya..” kata Minho dan semuanya menyetujui perkataan Minho.

Zimei dan Wendy agaknya terlihat terpukul atas insiden ini. Minho masih dengan tatapan kosongnya. Dan Kai yang terus menundukkan kepala menyesali perbuatannya. Dia memejamkan matanya.

Tidak berapa lama, ambulance pun datang dan menjemput mereka semua. Selama dalam ambulance, mereka masih sama dengan ekspresi mereka tadi. Tidak ada yang berubah dan tak ada sepatah kata pun terucap.

**

Keesokan harinya, hampir semua media Singapura mengabarkan berita atas tewasnya mahasiswi Nanyang Technology University…

.

The end

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s