Iwak Peyek Nasi Jagung Chapter 3

FF: Chaptered

Title: Iwak Peyek Nasi Jagung
Cast: Sabila, Minho, Kai, Zimei (Nadirah), Wendy (Itsna), Dahlia Polan aka Dapol (Nadhira), others
Genre: Angst
Author: Nadirah Ali (@alinadirah)

Note: DILARANG COPAS!! AWAS LO DIKUTUK  JADI IKAN PARI *siapa juga yg mau copas

.

Terima kasih untuk maicih yang menemani selama pembuatan ff ini dan membuat mata gue pusing. Sakit. Merah. Ga lagi-lagi deh..

****

ZIMEI POV

Hah! Beraninya kau Sabila!! Tidak tau diri memang. Sekarang, dia mencoba mendekati Kai! dasar tidak tau malu!. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam!! Akan ku balas kau… HUAHAHAHAHA *ketawa ala Karin hello kotok*

.

KAI POV

Aku memandangnya kebingungan. Taemin? Siapa itu Taemin?.  Aku rasa wanita ini sudah gila.

“Maaf. Sekali lagi aku bukan Taemin. Permisi.” kataku dan langsung bergegas pergi meninggalkannya.

Aku berjalan menjauhinya dan terus berjalan.

Satu, dua langkah ku lalui. Tiga, empat langkah… ku coba menoleh ke belangkang untuk melihat wanita aneh itu. Ketika ku lihat, dia tengah berlutut berbanjiran air mata.

Aku berhenti sebentar. Menatapnya agak lama. Tapi dia masih berlutut dan menangis.

“Hei gadis aneh! Aku tidak tau kau siapa, dan aku tidak tau maksudmu apa. Tapi kau boleh meminta kontakku pada Minho hyung. Kita bicara nanti.”

Wanita aneh itu sekarang tersenyum. Senyumannya merekah bak bunga raflesia arnoldi(?). Aku pun meneruskan langkah kakiku menuju rumah

.

WENDY POV

Aku melirik tumpukan buku besar akuntansi Sabilah itu. aku mengambilnya dan memeriksanya.

Hem.. lumayan juga perkerjaannya. Ah siapa sudi memegang buku akuntansinya?. Aku pun melempar buku-buku itu ke sembarang arah.

“Mengapa kau buang buku-buku itu?” Tanya Zimei

“Oh.. Itu milik Sabilah. Kenapa? Mau mengambilkannya?” jawabku sambil memasang wajah judesku.

“Cih! Untuk apa? Hahaha.. eh tapi omong-omong kenapa buku-buku miliknya bisa ada di tanganmu?”

Aku pun tertawa kecil, tersenyum dan mulai berjalan mendekati buku-buku Sabilah yang tergeletak di lantai, “Aku akan memusnahkan tugas-tugasnya. Dengan begitu dia akan kebingungan, kerepotan dan merasa bersalah telah melawan kita”

Zimei menyunggingkan senyumnya., “Benar sekali! Hahaha.. Bagus bagus. Ide yang bagus. Hahaha…”

Aku dan Zimei kini tengah merencanakan sesuatu untuk Sabilah. Kami berencana untuk mendatangi apartement Sabilah. Hanya untuk memberikan peringatan kecil. Hanya itu.

Kami pun bergegas ke apartemen Sabilah menggunakan Koenigsegg Agera milik kami.

.

MINHO POV

Aku menghabiskan iwak peyek yang tadi sore ku beli untuk cemilan bersama Kai. Di rumah Kai ini kami biasanya menghabiskan waktu bersama, untuk mengerjakan tugas, bercerita dan lain sebagainya.

“Tuh kan! Benar yang ku katakan. Wanita itu pasti gila. Sudah gila, banyak utang pula.”

Aku tertawa kecil melihat respon Kai karena ceritaku tentang Sabilah. Aku menceritakan tentang Sabilah yang menganggap Kai adalah mantan namja chingunya.

“Bagaimana dengan kuliahmu? Termodinamika?”

“Oh itu.. sudah beres. Aku mengerti. Tugasku juga sudah selesai”

“Hem.. bagus bagus kalau begitu”

Akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di rumah Kai. Karena besok tidak ada jadwal kuliah. Kai.. dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.

.

WENDY POV

“Wèi nín hǎo, zhè shì baba jiā ma? Wǒ shì Zimei wěi….”

Zimei tengah menelpon ayahnya, MR. Wu Yifan, sedangkan aku hanya fokus pada aktivitas menyetirku.  “Ah! Sial! Macet!” gerutuku.

“Baba qing baba.. qing..” kata Zimei dalam sambungan telpon.

“Waaa.. baba! Xiexie! Wo ai ni! Zai jian..” Zimei menyudahi percakapan telpon dengan ayahnya.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyaku

“Aku bilang pada ayahku untuk memberhentikan beasiswa Sabilah dan ayahku menyetujuinya.”

“Wah!! Ide yang bagus!!.. Yaampun. Kalau begini, aku bisa lega.”

Zimei melirik tumpukan buku akuntansi milik Sabilah, “Tidak! Ini belum selesai. Aku tidak mau dia mendekati Kai! Hih siapa dia!”

..

Setelah sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai di apartement Sabilah.

Tepat di depan kamar bernomor 229.

Kami menggetuk pintu tersebut sampai akhirnya munculah Sabilah dari balik pintu.

“Ya ada ap..” Zimei dan aku langsung masuk ke dalam, Zimei menarik pundak Sabilah hingga ia terjatuh.

.

SABILAH POV

Wendy dan Zimei menataku dari atas. Mereka melihatku tersungkur dengan wajah ketakutanku.

“Sudah puas? Mau lagi?” tanya retoris Wendy di sertai death glare-nya

“Ada hubungan apa kau dengan Kai? Ingin cari perhatian? Hah? Kau pikir kau secantik apa? Wajah kaya iwak peyek aja belagu..” kata Zimei

Iwak peyek?….

“Haha.. apa itu iwak peyek? Nasi jagung yang berantakan itu? Haha berarti wajahnya berantakan dong haha..”

Nasi jagung?….

“Apa kabarnya tugas-tugas akuntansimu Sabilah?”

Aku berpikir sejenak. Tugas akuntansi?.. Yaampun aku baru ingat. Sedari tadi aku memang kehilangan buku besar akuntansiku.. dimana buku-bukuku itu?.. Tunggu! Pasti mereka tau dimana bukuku.

“Wendy..” panggilku dan kini aku menatap Wendy penuh Tanya.

“Apa?!”

“Kau pasti tau kan dimana buku besar akuntansiku? Dimana Wendy? Dimana?!”

“Aishh.. ih apa-apaan kau ini” Wendy pun mendorongku hingga aku tersungkur lagi.

“Buat apa? Toh kau juga sudah tak berkuliah di Nanyang kok”

“Apa.. Apa maksudmu Zimei?”

“Kau! Kau sudah di keluarkan dari Nanyang. Beasiswamu di cabut! Lebih baik kau pulang sana ke Korea. Pulang sana bersama ibu dan ayahmu yang menjadi TKI!”

“Apa!! Zimei.. kau.. keterlaluan.. kau..”

“APA!! BERANI? HAH!!” Zimei menedangku hingga wajahku terpentok ke lantai.

Ah.. appa.. appa.. neomu appa….

“Bangun kau! Sini kalau berani! Dasar wanita centil. Awas kau ya dekat-dekat dengan Kai lagi.. k.. ll.. agasdf…..xcv” tiba-tiba pendengaranku sakit. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Dan siapa yang tadi berbicara seperti itu.. Ya tuhan.. neomu appa..

Aku mencoba bangun dan.. aku melihat di lantai terdapat darah. Aku mengedipkan mataku. Darah? Darah lagi?

Aku menyentuh hidungku, dan.. ternyata aku mimisan lagi. Dan tiba-tiba saja…..

.

ZIMEI POV

“Wendy, apa yang tejadi padanya?”

“A..a..aku juga tidak tau.. tapi.. sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit Zi!”

“Yayaya.. ayo kita angkat dia”

Aku dan Wendy pun membawa Sabilah ke Changi General Hospital.

Apa yang terjadi dengan Sabilah?.. Ah dasar menyusahkan! Hih

.

**setelah 1 jam di rumah sakit

“Wendy, kira-kira Sabilah kenapa ya?.. em,.. maksudku, apakah bahaya.. maksudku..”

“Iya iya aku mengerti. Semoga saja tidak. Agar kita aman..”

“Apa anda keluarga dari pasien?” kata dokter yang tiba-tiba menghampiri kami.

“Ee.. tidak dok, tapi kami temannya. Ee.. kami melihat dia di apartementnya sudah dalam keadaan seperti itu dok. Pingsan. Dia kenapa dok?” Tanyaku

“Emm.. begini.. aku harus bertemu dengan orangtua pasien. Ini.. ini sangat parah”

“Apa dok?! Parah? Seberapa parah? Apa yang terjadi dengan Sabilah dok?”

“Tolong panggilkan orangtuanya. Ini bukan menyangkut masalah fisik. Tenang tenang, dia baik-baik saja. Maka dari itu aku harus bertemu orangtuanya”

“Tapi dok.. kami tidak tau, orangtuanya di Korea dan kami tidak memiliki kontaknya.
“Ah.. bagaimana ini, tolong cari tau. Aku sangat membutuhkannya..”

Aku memandang dokter itu. fisik Sabilah tidak apa-apa? Lalu…. Sebenarnya ada apa dengan Sabilah?

“Tunggu dok! Tapi aku punya kontak kekasihnya! Di..dia.. emm.. dia sudah.. ee.. maksudku.. emm.. Dia mengenal orangtua Sabilah!! Ya!! Itu!! dan pasti dia akan memberi tau ini kepada orangtua Sabilah! Pasti dok!! Tolong dok, tolong bolehkan kekasihya yang mewakili pihak keluarga.”

“Emm.. sebenarnya aku tidak yakin, tapi baiklah, karena aku membutuhkannya cepat. Tolong sekarang juga.”

“Oh iya dok, tunggu sebentar..”

TUUUT.. TUUUT.. TUUUT..

“Halo.. bisakah kau ke Changi General Hospital sekarang, aku mohon. Ini sangat sangat penting aku mohon, kali ini saja.

.

KAI POV

Setelah sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai. Dan….

“Ini dia dok! Ini dia kekasih dari pasien, Sabilah! Kai!”

“Hah.. ap..” tiba-tiba Zimei menginjak kakiku dan membisikan, “Nanti ku ceritakan, iya kan saja dulu!”

Aku melihat Zimei heran, dan mengiyakan dokter tersebut.

“Iya dok. Saya kekasihnya, ada apa dok?”

“Tolong sampaikan ini kepada orangtua pasien. Emm.. jadi… pasien, mengalami gangguan mental. Selama satu jam pemeriksaan, pasien memeluk sesuatu yang sebenarnya tak dia peluk, tak ada, tak nyata, tapi dia bilang dia sedang memeluk boneka chucky dan memanggil-manggil nama Taemin. Dia juga terus berkata iwak peyek sepanjang pemeriksaan.”

“Lalu dok?..” Tanya Minho hyung

“Mari kita kita duduk..”

Semua tampak serius memerhatikan sang dokter..

“Pasien juga mengidap tuberculosis. Tapi aku rasa yang paling parah adalah mentalnya. Dia juga berkata buku besar akuntansi sedari tadi.”

“Buku besar? Iya dok.. ii.. itu.. mungkin buku yang dia cari! Ada di kampus mungkin….” Kata Wendy.

“Sekarang pasien dalam penjagaan suster. Sebaiknya dia di pindahkan di rumah sakit jiwa. Jangan disini. Kalau boleh tau kalian ini siapa-siapanya pasien?”

“Emm.. kami? Eh.. aku dan Minho hyung mahasiswa Nanyang Technology University”

“Lalu siapa yang sekampus dengan pasien?”

“Tidak ada dok. Kami semua dari Nanyang”

“Dia? Dia berkuliah dimana?”

Aku mencolek Minho hyung, berusaha menanyakannya, “Ssst.. ssst Minho hyung! Dia dari mana?” bisikku

“Aku juga tidak tau, yang aku tau dia hanya sering membawa buku besarnya itu di kampus kita, tapi aku tidak pernah tau dia berkuliah di Nanyang atau tidak” jawab Minho hyung

“Ah.. kalau begitu, aku harus menjawab apa?”

“Sudah bilang saja dia tidak berkuliah”

“Baiklah..”

.

To be continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s